VIRAL, Protes Jalan Rusak Jalan Lintas Sekayu–Lubuklinggau Picu Aksi Warga, BBPJN Diminta Segera Bertindak
SEKAYU, TRIBUNMURA - Kerusakan parah di Jalan Lintas Tengah (Jalinteng) Sekayu–Lubuklinggau memicu kemarahan warga Kabupaten Musi Banyuasin (Muba). Puluhan warga dari berbagai organisasi kemasyarakatan menggelar aksi unjuk rasa dengan membakar ban dan menanam pohon pisang di badan jalan, Rabu (4/1/2026).
Kerusakan Jalinteng yang merupakan jalan nasional tersebut telah berlangsung lama dan semakin parah, terutama di wilayah Desa Sugihwaras, Kecamatan Babat Toman. Kondisi jalan berlubang dan bergelombang dinilai membahayakan keselamatan pengguna jalan.
Aksi tersebut merupakan bentuk kekecewaan warga terhadap Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) Sumsel, selaku pihak yang berwenang, karena hingga kini belum melakukan perbaikan menyeluruh.
Salah satu peserta aksi, Ahmad Jahri SH, menyebut kondisi jalan negara tersebut sangat mengganggu aktivitas masyarakat dan kerap menyebabkan kecelakaan lalu lintas.
“Jalan Sekayu–Lubuklinggau ini merupakan urat nadi perekonomian masyarakat. Namun kondisinya justru seperti jalur penderitaan. Banyak lubang dalam, jalan bergelombang, bahkan sering terjadi kendaraan terbalik,” ujar Jahri.
Ia menegaskan, jika dalam waktu satu pekan tidak ada perbaikan yang signifikan, warga akan menggelar aksi lanjutan dengan jumlah massa yang lebih besar, bahkan berpotensi melakukan penutupan jalan.
“Kami sudah terlalu lama disuguhi janji perbaikan yang tidak pernah terealisasi,” tegasnya.
Sementara itu, Satker PJN 1 Sumsel PPK 1.4, Ahmad Fathur Rahman ST MT, mengatakan pihaknya akan segera melakukan penanganan fungsional untuk mengurangi risiko kemacetan dan kecelakaan.
“Penanganan dilakukan secara bertahap. Saat ini kami fokus mendata lubang-lubang besar dan melakukan penambalan agar kondisi jalan bisa dilalui dengan lebih aman,” kata Fathur.
Ia mengakui proses perbaikan terkendala kondisi cuaca, mengingat saat ini masih musim hujan sehingga potensi kerusakan ulang cukup tinggi.
“Jika terjadi kerusakan berulang, akan diperbaiki kembali. Kondisinya bisa diibaratkan seperti sakit berat, sehingga membutuhkan waktu dan proses dalam penanganannya,” pungkasnya.
Artikel ini di kutip dari Palpres.co